guru menulis

Short Course Guru PAI Ke Australia

Perjalanan ke Australia ini sangat mengesankan bagi saya. Saya sebagai guru yang  mengajar PAI di  SMA Negeri 1 Magetan baru saja menghabiskan waktu  selama setengah bulan untuk  berkeliling  Australia.  Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat PAI Kementerian Agama RI yang bekerja sama dengan Lembaga Internasional Australia, Scope Global.

Adapun peserta kegiatan short course ini dipilih melalui seleksi yang super ketat. Kompetensi awal sangat penting agar kegiatan yang memakan biaya tidak kecil ini tidak berlalu sia-sia. Tahapan tes yang saya lalui untuk lolos ke Australia ini tidaklah mudah. Tahap pertama menyerahkan administrasi dan personal paper. Tahap kedua tes tulis dan toefl, dan tahapan terakhir wawancara. Animo guru dan pengawas PAI seluruh Indonesia sangatlah besar. Dengan persyaratan yang berat, sekitar 300 pendaftar yang masuk lolos seleksi administrasi tersaring 84 peserta. Pada tes tertulis dan wawancara atau seleksi tahap II berhasil terpilih 42 calon peserta unggulan lintas jenjang pendidikan dan pengawas PAI.

Setelah tahapan seleksi akhirnya Direktorat Pendidikan Agama Islam, Kementerian Agama akhirnya mengirim 42 guru agama Islam ke Australia untuk memperdalam dan mengembangkan kompetensi dan wawasan untuk guru dan pengawas PAI dalam hal multikulturalisme, metodologi pembelajaran dan kepengawasan PAI, bukan pada konten PAI. Berharap terobosan dalam menerapkan pendidikan anti radikalisme di Indonesia.  Pengalaman berharga di Australia cukup aplikatif diterapkan di Indonesia.

Tujuan kepergian saya ke Australia bukan melancong, melainkan menimba ilmu metodologi pembelajaran dan multikultularisme di Adelaide of University dan berkunjung ke sekolah multi etnik di negeri Kanguru.  Serangkaian aktifitas di Australia merupakan brainstorming dan kunjungan selama 15 hari pada tanggal 15-29 November 2015 di tiga kota di Australia yaitu Adelaide, Melbourne dan Sydney. Kegiatan yang dilakukan di Australia ini terasa tidak ada yang rugi.

Kuliah yang saya dapatkan di Adelaide University sangatlah menarik karena didukung dengan fasilitas dan akomodasi yang bagus, membuat peserta short course tidak merasa jenuh, meski jadwal terbilang padat. Kegiatan pembelajarannya dalam bentuk seminar, diskusi dan kunjungan. Dengan cara ini seluruh peserta short course tidak hanya bisa berdiskusi tetapi juga melihat langsung dan bertemu dengan peserta didik yang ada di sekolah-sekolah di Australia.

Materi yang disampaikan oleh Dr. Nina Maadad dan Dr. I Gusti Darmawan yaitu tentang Multicultularism in School including policy development an implementation, Relevant policy in other countries. Beliau berdua menjelaskan tentang pembentukan identitas terbentuk melalui lingkungan, budaya, agama dan bahasa. Pembentukan identitas tersebut dibarengi dengan penanaman nilai dalam keberagaman masyarakat supaya tidak ada pertengkaran maupun bentrokan.  Nilai dasar multikultural merupakan payung dalam bertindak serta bersosialisasi di masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam multikultural adalah kejujuran, rasa saling menghargai, saling memahami, saling hidup, kebebasan dan bekerja bersama.

Sesuai dengan pengamatan langsung yang saya lakukan, baik di Woodville High School, Lindenpark Primary School, Dandenong High School, Essex Height Primary, Wallan Secondary School, sekolah-sekolah di Australia ini sangatlah maju dalam hal multikultural, karena beragam siswanya. Di  sekolah-sekolah tersebut tidak mengajarkan pendidikan agama, tetapi agama, suku, atau aliran justru dihargai dan tidak menjadi bahan pertikaian. Budaya sekolah merupakan hal penting untuk menanamkan dan membiasakan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman. Bahkan untuk menanyakan apa agama yang dianut  di Australia dianggap tabu.

Guru di Sekolah-sekolah Australia merupakan role model kekuatan yang bisa mempengaruhi dan menjadi agen perubahan bagi  siswanya.  Karena guru merupakan pemimpin dalam penanaman nilai-nilai multikultural di sekolah, dan wajib mengarahkan  siswa berfikir kritis dalam melihat keadaan sekitar. Adapun inti ajaran multikultural di sekolah-sekolah Australia adalah memahami persamaan hak dan kewajiban dalam sebuah perbedaan.

Semoga kegiatan yang diprogramkan oleh Direktorat PAI Kementerian Agama ini membawa perubahan yang positif untuk guru dan pengawas PAI sehingga pendidikan agama Islam semakin berkualitas. Selain itu guru PAI  mampu membudayakan nilai-nilai agama dan  mewariskan moral bagi siswa-siswinya.

Dari kegiatan ke Australia ini, saya mampu menimba ilmu, membuka wawasan, melihat dunia luar dengan berbagai macam perilaku terpujinya. Maka saya memiliki  passion yang kuat untuk generasi muda kita, agar senantiasa berperilaku jujur, saling menghargai dan saling menghormati. Terutama guru PAI, mari kita menjadi agent of change untuk Indonesia agar lebih baik lagi, dimulai dari diri kita sendiri “ibda’ binafsih” untuk hal-hal kecil yang bisa kita lakukan. Semoga kita mampu menjadi inspirasi bagi orang lain. Aamiin.

(This article is originally taken from my own experience during my short course in Australia)

Penulis : Riris Ratnasari, M.Pd.I  (Guru Pendidikan Agama Islam)

SMAN 1 MAGETAN
the authorSMAN 1 MAGETAN
We Are The Leader Not Follower

Tinggalkan Balasan